P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4
Bookmark

Translate

Kekayaan Mochtar Riady Jadi Sorotan Pasca-Pemecatan Anak Kandung

Mochtar Riady, Sang Bapak Perbankan Indonesia

Mochtar Riady adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah perbankan Indonesia. Sebagai pendiri Lippo Group, ia dikenal sebagai sosok yang sangat disiplin dan konservatif dalam berbisnis. Namun, tindakan yang diambilnya terhadap anak kandungnya sendiri, Andrew Riady, menunjukkan betapa kerasnya prinsip yang ia pegang.

Pada suatu hari, Mochtar memergoki sang anak sedang melakukan trading forex. Ia merasa bahwa aktivitas tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ia anut. “Suatu hari aku masuk ke ruangan anakku, dan aku menemukan komputer berisi informasi soal forex. Bagiku, ini adalah spekulasi,” ujarnya.

Kecewa dengan tindakan Andrew, Mochtar mengambil langkah tegas dengan memecat anaknya dari perusahaan. Tindakan ini sempat menuai reaksi dari sejumlah kolega bisnisnya. Banyak yang menilai langkahnya terlalu keras. “Ada yang bilang, kenapa kamu memecat Andrew? Dia kan sangat mahir, ini masalah kecil, tidak perlu sampai dipecat,” cerita Mochtar menirukan ucapan mereka. Namun, ia tetap teguh pada pendiriannya. “Aku bilang tidak. Ini sangat berbahaya. Andrew harus keluar dan jangan lagi terlibat di bank,” tegasnya.

Langkah tersebut menggambarkan konsistensi Mochtar dalam menegakkan prinsip keuangan yang sehat. Ia percaya bahwa keberhasilan perbankan dibangun dari kepercayaan, stabilitas, dan kehati-hatian, bukan dari spekulasi atau keuntungan instan. Sikap tegasnya inilah yang membuat Mochtar dikenal sebagai figur legendaris di dunia perbankan Indonesia.

Harta Kekayaan Mochtar Riady

Berdasarkan laporan Forbes, Jumat (13/12/2024), nilai kekayaan Mochtar Riady mencapai 2,1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 33,6 triliun (kurs Rp 16.022 per dollar AS). Total kekayaan tersebut membuat Mochtar Riady menduduki posisi orang terkaya ke-25 dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia 2024. Di tingkat dunia, pria berusia 95 tahun tersebut berada di posisi orang terkaya ke-2152.

Sumber kekayaan Mochtar Riady salah satunya berasal dari kelompok usaha Lippo yang dia dirikan. Saat ini, operasional perusahaan dijalankan oleh anak Mochtar Riady, James dan Stephen Riady. Usaha Lippo Group kini mencakup properti atau real estate, ritel, perawatan kesehatan, media, dan pendidikan.

Profil Mochtar Riady

Pria yang memiliki nama lain Lie Moe Tie ini merupakan pengusaha dan bankir Indonesia kelahiran Malang, Jawa Timur, pada 12 Mei 1929. Dia adalah sosok pendiri Lippo Group, sebuah konglomerasi di bidang properti, ritel, dan bisnis lainnya, yang didirikan pada 1950-an. Mochtar Riady juga merupakan pendiri Mochtar Riady Institute of Nanotechnology yang bergerak di bidang riset nanoteknologi di Tanah Air.

Dilansir dari Kontan, Rabu (16/3/2022), Mochtar Riady adalah anak dari Li A Pi (1898-1959) yang berasal dari Desa Sin Tian, Provinsi Hokkian, China. Dikenal sebagai pengusaha dan bankir andal, Mochtar ternyata memang bercita-cita menjadi bankir karena terpesona dengan gedung-gedung megah bergaya Eropa saat pergi ke sekolah.

Namun, saat Mochtar Riady berusia 20-an tahun, dia malah menjadi pengelola toko milik mertuanya di Jember, Jawa Timur. Dalam memoarnya, Otobiografi Mochtar Riady: Manusia Ide (2016), Mochtar Riady memutuskan untuk meninggalkan toko dan memilih hijrah ke Jakarta demi meraih mimpinya.

Kendati demikian, kesempatan untuk menjaga pegawai bank tak langsung datang. Di Jakarta, dia pun memutuskan untuk berbisnis. Sayangnya, berbisnis di zaman demokrasi liberal (1950-1959) bukan hal mudah bagi para keturunan sepertinya. Namun, ia tetap memutuskan untuk berbisnis sepeda, meski tetap ingin bekerja kantoran sebagai pegawai bank.

Jejak Mochtar Riady di Perbankan

Pada 1959, Mochtar Riady berkenalan dengan Andi Gappa, kakak kandung dari Andi Muhamad Jusuf yang menjadi Menteri dan Panglima ABRI pada zaman pemerintahan Presiden Soeharto. Andi Gappa yang merupakan pemilik Bank Kemakmuran mengajak Mochtar Riady bergabung sebagai mitra usaha. Saat itu, aset bank tersebut tercatat sekitar 3 juta dollar AS dengan modal kerja sekitar 100.000 dollar AS.

"Syarat menjadi mitra baru harus menyuntik modal segar 200.000 dollar AS untuk menguasai 66 persen saham," kata Mochtar dalam memoarnya. Kala itu, posisi Mochtar Riady adalah sebagai presiden direktur, meski dia tidak bisa membaca laporan keuangan.

"Di Bank Kemakmuran, saya banyak mendapat pelajaran dan pengalaman sehingga bisa mengenal sifat manusia yang umumnya serakah dan egoistik," aku Mochtar.

Mochtar Riady kemudian berpikir untuk mencari rekan yang berperilaku baik sekaligus memiliki modal yang lebih kuat untuk menjadi mitra dalam membangun bank baru. Dia lalu mendapatkan mitra yang bertugas membangun perseroan terbatas (PT), sedangkan tugas Mochtar mencari bank yang hendak mereka akuisisi.

Ketika itu, kebetulan kawannya yang bernama Ma Zhong, pemilik Bank Buana, tengah merugi akibat manajemen tidak memadai. Mochtar Riady bersama para mitra lalu mengakuisisi Bank Buana, serta mulai beroperasi kembali pada 1963.

Dalam kurun waktu 1962-1965, Bank Buana berhasil menduduki peringkat enam besar di antara bank-bank yang ada di Indonesia. Bahkan, ketika krisis perbankan terjadi antara 1965-1966, Bank Buana termasuk salah satu bank yang selamat.

Berbanding terbalik, Bank Kemakmuran yang ditinggalkan Mochtar justru bernasib suram karena terdampak krisis. Akhirnya, Bank Kemakmuran diambil alih oleh Mochtar. Hingga pada 1971, Bank Industri dan Dagang Indonesia (BIDI), Bank Industri Jaya Indonesia, dan Bank Kemakmuran dimerger menjadi satu bank baru. Bank itu kemudian dinamakan sebagai Pan Indonesia Bank, yang belakangan dikenal sebagai Panin Bank.

Jejak kepiawaian Mochtar Riady dalam bidang perbankan juga tampak pada Bank Central Asia (BCA). Dalam sebuah perjalanan pesawat menuju Hong Kong, Mochtar Riady yang duduk bersebelahan dengan Liem Sioe Liong atau lebih dikenal sebagai Sudono Salim, diajak untuk bergabung dengan salah satu banknya. Saat itu, tawaran datang untuk Bank Windu Kencana, Bank Dewa Ruci, dan BCA. Mochtar kemudian memilih untuk bergabung dengan BCA yang tengah dalam kondisi kurang lancar. Mochtar Riady pun berhasil mengembangkan BCA hingga mencapai tingkat clearing house kedua setelah Bank Indonesia.

0

Posting Komentar

Komentar untuk berinteraksi dengan komunitas Brokerja.com. Dapatkan informasi tips terbaru disini.