P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4
Bookmark

Translate

Anies Hadiri Raker Gerakan Rakyat: Sawit Berbeda dengan Pohon Hutan

Featured Image

Anies Baswedan Menjelaskan Perbedaan Penting antara Hutan dan Perkebunan Sawit

Anies Baswedan, mantan Gubernur Jakarta dan calon Presiden 2024, menyampaikan pernyataan penting terkait perbedaan antara hutan hujan tropis dengan perkebunan sawit. Pernyataan ini disampaikannya saat meresmikan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Gerakan Rakyat di Jakarta Pusat pada Sabtu, 17 Januari 2026. Tema yang diangkat dalam acara tersebut adalah “Keadilan Ekologis: Kembalikan Hutan Indonesia”.

Anies menyoroti argumen umum bahwa semua pohon memiliki kesamaan, termasuk pohon kelapa sawit. Ia mengakui bahwa secara teknis, pohon sawit juga melakukan fotosintesis seperti pohon lainnya. Namun, ia menegaskan bahwa perkebunan sawit tidak bisa menggantikan fungsi hutan hujan tropis.

“Sawit memang bisa menyerap karbon, tapi apakah itu sama dengan hutan? Tidak,” ujar Anies. Ia menjelaskan bahwa hutan hujan tropis mampu menyimpan hingga 10 kali lipat lebih banyak karbon dibandingkan kebun sawit. Hal ini disebabkan oleh usia pohon hutan yang bertahun-tahun, sehingga menyimpan karbon di berbagai bagian, mulai dari daun, batang, hingga akar.

Berbeda dengan pohon sawit, yang hanya tumbuh selama sekitar 25 tahun sebelum ditebang dan diganti. Siklus hidupnya yang pendek membuat kemampuan penyimpanan karbonnya terbatas. Selain itu, sistem akar pohon hutan jauh lebih dalam dan kompleks dibandingkan akar sawit yang dangkal dan horizontal.

“Ketika hujan deras, air langsung mengalir di permukaan tanaman sawit, sedangkan akar hutan mampu menyerap dan mengatur aliran air,” lanjut Anies. Ia mencontohkan dampak banjir yang terjadi beberapa waktu lalu, di mana kawasan dengan areal sawit mengalami kerusakan lebih parah dibandingkan kawasan hutan.

Fungsi Hutan sebagai Habitat Satwa Liar

Selain fungsi ekologisnya, Anies juga menyoroti pentingnya hutan sebagai habitat bagi satwa liar. Ia menunjukkan bahwa banyak spesies seperti harimau Sumatera, gajah, dan badak tidak dapat hidup di perkebunan sawit. Menurut catatan para ahli biologi, hanya 15 persen dari spesies hutan yang bisa bertahan di lahan perkebunan, sementara 85 persen sisanya tidak mungkin hidup di lingkungan tersebut.

“Mereka membutuhkan hutan, bukan kebun,” ujar Anies. Ia menilai bahwa penggantian hutan dengan perkebunan akan berdampak negatif terhadap keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekosistem.

Perbedaan Pendapat dengan Pernyataan Presiden

Pernyataan Anies secara tidak langsung merujuk pada pandangan Presiden Prabowo Subianto, yang pernah menyatakan bahwa kelapa sawit merupakan aset negara. Dalam pidatonya di Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbang) pada Desember 2024, Prabowo menekankan perlunya peningkatan produksi sawit. Ia juga menyatakan bahwa sawit adalah pohon yang bisa menyerap karbon, sehingga tidak perlu takut terhadap deforestasi.

Namun, Anies menilai bahwa pernyataan tersebut kurang mempertimbangkan perbedaan mendasar antara hutan dan perkebunan. Ia menegaskan bahwa meskipun sawit memiliki daun dan bisa menyerap karbon, fungsinya tidak sama dengan hutan. Ia menilai bahwa pengembangan sawit harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak lingkungan dan ekosistem alami.

Kesimpulan

Dari pernyataan Anies, terlihat bahwa ia menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan melalui perlindungan hutan hujan tropis. Ia menilai bahwa perkebunan sawit, meskipun memiliki manfaat ekonomi, tidak dapat menggantikan fungsi hutan dalam menjaga keseimbangan ekologis. Dengan demikian, ia mengajak masyarakat untuk lebih memahami perbedaan antara dua jenis ekosistem ini dan menjaga keberlangsungan alam.

0

Posting Komentar

Komentar untuk berinteraksi dengan komunitas Brokerja.com. Dapatkan informasi tips terbaru disini.