P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4
Bookmark

Translate

Pemimpin Perusahaan Minyak Tidak Setuju dengan Permintaan Trump Investasi 100 Miliar Dolar di Venezuela

Featured Image

Permintaan Trump untuk Investasi Minyak di Venezuela Menghadapi Tantangan Besar

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengajukan permintaan kepada industri migas AS agar berkomitmen menyalurkan dana sebesar 100 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1,68 kuadriliun (kurs Rp 16.800 per dolar AS) untuk pengembangan sektor energi di Venezuela. Namun, permintaan ini mendapat respons yang tidak terlalu optimis dari para pemimpin perusahaan minyak besar.

Dalam pertemuan di Gedung Putih, beberapa eksekutif perusahaan minyak menyampaikan pandangan bahwa situasi saat ini di Venezuela belum layak untuk investasi. Meski Venezuela memiliki cadangan energi yang sangat besar, mereka menegaskan bahwa diperlukan perubahan signifikan agar investor kembali tertarik.

Trump dalam pertemuan tersebut menegaskan bahwa pemerintahannya akan membuka akses bagi industri minyak Venezuela setelah pasukan AS menangkap Presiden Nicolas Maduro pada 3 Januari 2026. Ia berharap hal ini dapat memberikan dampak positif terhadap harga energi global.

Namun, para bos perusahaan minyak seperti CEO Exxon Darren Woods menyatakan kekhawatiran. Mereka menilai bahwa aset perusahaan telah disita dua kali di negara tersebut dan masuk kembali untuk ketiga kalinya membutuhkan perubahan yang sangat signifikan.

Venezuela memiliki hubungan rumit dengan perusahaan minyak internasional sejak minyak ditemukan di wilayahnya lebih dari 100 tahun lalu. Chevron adalah satu-satunya perusahaan minyak besar asal AS yang masih beroperasi di sana. Sementara itu, perusahaan lain seperti Repsol dari Spanyol dan Eni dari Italia juga masih aktif di negara tersebut.

Trump menyatakan bahwa pemerintahannya akan menentukan perusahaan mana yang diizinkan beroperasi di Venezuela. Ia menekankan bahwa perusahaan tidak perlu berurusan langsung dengan pemerintah Venezuela, karena pihaknya akan mengendalikan penjualan minyak sebagai cara mempertahankan pengaruh.

Gedung Putih juga sedang bekerja untuk mencabut sanksi AS secara selektif terhadap Venezuela. Pejabat AS mengklaim telah berkoordinasi dengan otoritas sementara yang dipimpin oleh Wakil Presiden Delcy Rodríguez. Namun, mereka tetap ingin menjaga kontrol atas penjualan minyak.

Pekan ini, AS menyita beberapa kapal tanker yang membawa minyak mentah yang dikenai sanksi. Pihak AS sedang menyiapkan mekanisme penjualan, di mana hasil penjualan akan disimpan dalam rekening yang dikendalikan AS.

Meskipun Trump menyatakan bahwa pihaknya terbuka untuk bisnis, produksi minyak Venezuela terus terpuruk akibat kurangnya investasi dan kesalahan manajemen, serta sanksi AS. Dengan produksi sekitar satu juta barrel per hari, Venezuela hanya menyumbang kurang dari 1 persen pasokan global.

Chevron, yang menyumbang sekitar seperlima produksi Venezuela, berharap dapat meningkatkan produksinya dengan memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada. Exxon sedang menyiapkan tim teknis untuk mengevaluasi situasi di Venezuela dalam beberapa pekan ke depan.

Repsol, yang saat ini memproduksi sekitar 45.000 barrel per hari, melihat peluang untuk melipatgandakan produksi hingga tiga kali lipat jika kondisi membaik. Eksekutif perusahaan lain juga menyambut baik janji perubahan dari Trump, namun menilai bahwa dana nyata belum benar-benar mengalir.

David Goldwyn, mantan utusan khusus Departemen Luar Negeri AS, menyatakan bahwa perusahaan besar seperti Exxon dan Shell tidak akan berinvestasi dalam jumlah besar tanpa jaminan keamanan fisik, kepastian hukum, dan kerangka fiskal yang kompetitif. Menurutnya, situasi saat ini belum memenuhi syarat untuk investasi besar.

Rystad Energy memperkirakan dibutuhkan 8 miliar–9 miliar dolar AS investasi baru per tahun agar produksi bisa meningkat tiga kali lipat pada 2040. Jika dana 100 miliar dolar AS benar-benar dialirkan, dampaknya akan sangat signifikan. Namun, perusahaan hanya akan berinvestasi dalam skala besar jika ada subsidi dan stabilitas politik.

Warga AS tidak perlu berharap situasi di Venezuela akan segera menurunkan harga minyak. Kepala Ekonom Rystad, Claudio Galimberti, menegaskan bahwa akan sulit melihat komitmen besar sebelum situasi politik benar-benar stabil. Kapan hal itu terjadi masih menjadi tanda tanya.

0

Posting Komentar

Komentar untuk berinteraksi dengan komunitas Brokerja.com. Dapatkan informasi tips terbaru disini.