P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4
Bookmark

Translate

Pengusaha Baja Khawatirkan Dampak Konflik Venezuela-AS pada Industri RI

Featured Image

Dampak Konflik Geopolitik pada Industri Baja Nasional

Konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela dianggap oleh Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) sebagai faktor yang dapat memperbesar ketidakpastian pasar internasional. Hal ini terutama berdampak pada harga energi dan biaya logistik, yang menjadi komponen penting dalam industri baja.

Direktur Eksekutif IISIA Harry Warganegara menyatakan bahwa kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia, yang kemudian berdampak pada meningkatnya biaya energi, transportasi, dan logistik. Kenaikan biaya ini menambah tekanan terhadap biaya produksi industri baja nasional, terlebih dalam situasi persaingan global yang semakin ketat.

Meski dampak langsung terhadap industri baja Indonesia tidak terlalu besar, volatilitas harga energi tetap perlu diantisipasi sejak dini. Harry mengatakan bahwa eskalasi geopolitik global, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela, berpotensi meningkatkan ketidakpastian pasar serta mendorong kenaikan harga energi.

Menurut IISIA, meskipun industri baja nasional memiliki ketahanan yang cukup baik, ketidakpastian global dapat memengaruhi perencanaan bisnis dan aktivitas ekspor. Situasi ini memaksa pelaku usaha untuk lebih cermat dalam mengelola biaya dan menjaga keberlanjutan produksi.

Di tengah dinamika ini, pelaku industri didorong untuk memperkuat efisiensi operasional serta pengelolaan risiko biaya. Upaya ini dinilai penting agar industri baja tetap mampu bersaing dan mempertahankan pangsa pasar ekspor di tengah fluktuasi ekonomi global.

“Penguatan efisiensi, pengelolaan risiko biaya, serta strategi menjaga daya saing perlu terus dilakukan agar industri baja nasional tetap resilien,” ujar Harry.

Kinerja Ekspor Baja Indonesia yang Masih Positif

Secara kumulatif, kinerja ekspor besi dan baja Indonesia masih menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor besi dan baja dengan kode HS 72 pada periode Januari hingga November 2025 tercatat mencapai 21,18 juta ton. Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 19,04 juta ton.

Peningkatan ini mencerminkan bahwa permintaan terhadap produk baja Indonesia masih terjaga, meskipun dibayangi oleh ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Produk turunan nikel, termasuk ferronikel, masih menunjukkan kinerja yang relatif baik dan menjadi penopang utama ekspor besi dan baja nasional.

Namun, secara bulanan tercatat adanya penurunan volume ekspor pada November 2025. Volume ekspor besi dan baja tercatat turun dari sekitar 2,18 juta ton pada Oktober menjadi 1,68 juta ton pada November. Penurunan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti fluktuasi permintaan dan pengapalan, penyesuaian jadwal ekspor menjelang akhir tahun, serta dinamika pasar global yang masih berlangsung.

Kondisi ini dinilai sebagai fenomena yang lazim dalam perdagangan internasional. “Fluktuasi bulanan merupakan hal yang wajar dan tidak mencerminkan kondisi fundamental, selama tren kumulatif ekspor masih menunjukkan peningkatan,” pungkas Harry.

0

Posting Komentar

Komentar untuk berinteraksi dengan komunitas Brokerja.com. Dapatkan informasi tips terbaru disini.