
BROKERJA.COM.CO.ID - Jakarta.Informasi mengenai sebaran gas Sulfur Dioksida (SO2) dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang disebut "mengepung" wilayah Jabodetabek dan Banten sempat marak beredar di media sosial. Apakah gas SO2 berbahaya?
Kabar tersebut mengklaim angin bertiup ke arah timur laut membawa emisi gas beracun langsung ke pemukiman padat penduduk, yang memicu kekhawatiran warga akan bahaya kesehatan serta munculnya desakan peringatan dini.
Menanggapi kepanikan publik tersebut, Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Lana Saria, memberikan verifikasi resmi untuk meluruskan fakta terkait sebaran gas vulkanik tersebut.
Erupsi Magmatik Lepaskan Gas SO2 di Lapisan Atmosfer Bawah
Badan Geologi membenarkan bahwa Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi magmatik bertipe lava fountain yang melepaskan gas SO2 dalam kuantitas besar. Berbeda dengan erupsi Gunung Ruang pada tahun 2024 yang gasnya membumbung tinggi hingga 5.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), karakter erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini membuat keberadaan gas relatif berada pada lapisan atmosfer yang lebih rendah atau dekat dengan permukaan tanah.
Akibat terbawa angin, paparan atau bau gas SO2 memang berpotensi tercium oleh masyarakat di wilayah Banten, Jabodetabek, maupun Lampung. Semakin jauh lokasi dari pusat erupsi, konsentrasi gas SO2 sebenarnya akan semakin menurun karena mengalami pengenceran oleh udara di sekitarnya. Namun, baunya mungkin masih bisa tercium. Pada konsentrasi yang melebihi ambang batas normal, gas SO2 dapat memicu sejumlah gangguan kesehatan, antara lain:



Posting Komentar