
Kehidupan di Balik Produksi Keripik Berkah Snack
Di sebuah rumah sederhana yang terletak di Dusun Kliwonan, Desa Sugihan, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, kehidupan sehari-hari berlangsung dengan penuh semangat. Di bagian dapur, suasana penuh kegiatan menggambarkan betapa aktifnya para pengrajin keripik di tempat ini. Wajan-wajan besar berdiri di atas tungku, sementara minyak mulai mengeluarkan suara gemericik yang mengiringi aroma gurih dari berbagai jenis keripik.
Ibu-ibu tampak sangat terlatih dalam menjalankan proses produksi. Mulai dari mengadon tepung, mencelupkan bahan seperti tempe, pare, dan bayam, hingga meniriskannya ke dalam wadah. Ritme kerja mereka sudah sangat terbiasa, bahkan sesekali mereka berhenti sejenak untuk meregangkan otot agar tetap segar selama bekerja.
Di sudut lain, seorang perempuan sedang sibuk merajang tempe menggunakan pisau tajam. Ia memastikan bahwa irisan tempe tipis dan merata sebelum masuk ke tahap penggorengan. Proses ini menjadi bagian penting dalam menciptakan produk berkualitas.
Jumiyati, pemilik usaha aneka keripik Berkah Snack, menjadi pusat pengawasan setiap tahapan produksi. Mulai dari pemotongan bahan, proses penggorengan, hingga pengemasan, ia selalu memantau dengan cermat. Usaha ini dimulai sejak tahun 2010, awalnya hanya sebagai hobi karena ia menyukai makanan keripik.
Pada awalnya, Jumiyati membuat kemasan keripik kecil-kecil dengan harga Rp700 per kemasan. Produk ini kemudian dijual ke pasar tradisional. Pedagang eceran pun membeli dari dirinya dengan harga Rp1.000 per kemasan. Seiring waktu, usahanya berkembang pesat.
Kini, produk Berkah Snack telah menjangkau beberapa kota seperti Surakarta, Kendal, Semarang, Klaten, dan Boyolali. Banyak reseller juga datang langsung ke rumahnya untuk mengambil produk tersebut. Sistem penjualan dilakukan dalam bentuk bal-balan, dengan harga yang berbeda tergantung jenis keripik.
Untuk keripik bayam, satu bal berisi 2 hingga 2,5 kilogram dengan harga Rp90 ribu. Sementara itu, keripik tempe dan pare dijual Rp75 ribu per bal dengan berat sekira 1,75 kilogram. Jumiyati menyebutkan bahwa ada lima toko di Surakarta, lima toko di Semarang, dua toko di Klaten, dan satu toko di Boyolali.
Sejak berpisah dengan suaminya, Jumiyati menjalani hidup sebagai perempuan mandiri. Omzet usahanya mencapai Rp20 juta per pekan. Dari hasil usaha ini, ia mampu memenuhi kebutuhan ketiga anaknya. Dua dari mereka telah menempuh pendidikan tinggi, sementara satu lainnya masih duduk di bangku SMA.
Pekerjaan yang Menjadi Penopang Ekonomi
Usaha keripik Jumiyati tidak hanya menjadi sumber penghasilan bagi keluarganya, tetapi juga menjadi tumpuan bagi sejumlah ibu-ibu di lingkungan sekitarnya. Ada 12 karyawan yang bekerja bersamanya. Mereka bertugas sebagai juru potong, juru masak, juru kemas, serta sopir yang mengantarkan produk ke berbagai toko.
Para juru masak dibayar sesuai jumlah tepung yang digunakan dalam memproduksi keripik. Rata-rata, pendapatan mereka mencapai Rp100 ribu per hari. Sementara itu, para pekerja yang bertugas memotong dan mengemas mendapatkan upah borongan sebesar Rp75.000 per hari.
Dalam sehari, Jumiyati memproduksi berbagai jenis keripik dengan menghabiskan tepung hingga satu kuintal, terutama saat momen tertentu. Meski begitu, perjalanan usahanya tidak selalu mulus. Pernah, ia mengalami kerugian dan sempat vakum selama satu bulan akibat persaingan dengan pelaku UMKM lainnya.
Namun, pengalaman ini justru membuatnya lebih kuat. Strategi yang ia gunakan adalah tetap konsisten dalam menjaga kualitas rasa dan memastikan produk tidak berminyak. "Yang penting gorengan tidak berminyak," ujarnya. "Kalau berminyak, pasti peminatnya akan berkurang." Ia menegaskan bahwa keripik bayam yang ia buat tidak menggunakan spinner, tetapi tetap tidak berminyak.



Posting Komentar