
Presiden Donald Trump dan Pembicaraan dengan NATO Mengenai Greenland
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa pihaknya sedang berdiskusi dengan Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) terkait wilayah Greenland. Ia menekankan pentingnya Greenland bagi keamanan nasional AS. Menurutnya, jika negara tersebut tidak memiliki akses ke Greenland, akan ada celah besar dalam keamanan negara, khususnya terkait dengan proyek-proyek pertahanan seperti Kubah Emas.
Trump tidak memberikan detail lebih lanjut mengenai inisiatif militer atau keamanan yang ia sebutkan. Namun, ia menegaskan bahwa AS sedang aktif melibatkan NATO dalam masalah ini. Sebelumnya, Trump juga menyatakan bahwa dirinya sedang mempertimbangkan penggunaan tarif sebagai alat untuk menekan negara-negara yang menentang kepentingan AS terkait Greenland.
Penunjukan Tony Blair ke "Dewan Perdamaian" Gaza
Presiden Donald Trump menunjuk mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, sebagai anggota dari "Dewan Perdamaian" yang diharapkan dapat mengawasi rencana 20 poin presiden Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik Israel-Palestina di Gaza.
Gedung Putih menyatakan bahwa Blair akan menjadi salah satu anggota eksekutif pendiri dewan tersebut. Selain Blair, anggota lainnya termasuk menantu Trump, Jared Kushner, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, serta utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff.
Anggota dewan tersebut akan fokus pada pembangunan kapasitas tata kelola, hubungan regional, rekonstruksi, daya tarik investasi, pendanaan skala besar, dan mobilisasi modal. Diplomat Bulgaria Nickolay Mladenov akan menjabat sebagai Perwakilan Tinggi untuk Gaza.
Taiwan Ajak Indonesia Bermitra di Rantai Pasok Semikonduktor
Menteri Luar Negeri Taiwan, Lin Chia-Lung, menyatakan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi mitra penting Taiwan dalam pengembangan industri semikonduktor di Asia Tenggara. Namun, peluang ini memerlukan posisi Indonesia yang jelas dalam melihat Taiwan sebagai mitra setara.
Lin menjelaskan bahwa perencanaan strategis industri semikonduktor di Asia Tenggara telah berlangsung, dengan Taiwan lebih dulu membangun kerja sama dengan Vietnam dan Filipina. Ia menilai bahwa Indonesia, dengan populasi besar dan potensi pasar yang luar biasa, sangat cocok untuk bergabung dalam kerangka ini.
Ia menambahkan bahwa Indonesia perlu menunjukkan sikap yang memandang Taiwan sebagai mitra setara. Dengan demikian, keahlian dan sumber daya pelatihan Taiwan dapat dibagikan untuk memfasilitasi kemajuan industri Indonesia.



Posting Komentar