
Pergeseran menuju ekonomi rendah karbon kini mulai memengaruhi arah dari ekosistem bisnis di seluruh dunia. Karbon, air, biodiversitas hingga jasa ekosistem kini semakin dianggap sebagai bagian penting dari nilai ekonomi, bukan hanya sekadar aspek lingkungan. Perubahan ini menunjukkan bahwa sumber daya alam tidak lagi dilihat hanya dari segi komoditas yang bisa diekstraksi, tetapi juga dari nilai ekonomi yang muncul ketika ekosistem alam tetap terjaga.
Heppy Trenggono, founder dan CEO PT Visi Carbon Indonesia (VCarboN), menyatakan bahwa dunia kini mulai membayar bukan hanya apa yang diambil dari alam, tetapi juga apa yang berhasil dijaga. Hal ini menandai pergeseran paradigma dalam cara mengelola sumber daya alam.
Menurut Heppy, ekonomi karbon kini tidak lagi sebatas isu lingkungan. Berbagai perkembangan seperti pricing karbon, perdagangan berbasis intensitas karbon, aliran modal, regulasi, teknologi hingga konsep natural capital mulai menjadi bagian dari perubahan struktur ekonomi global. Kondisi ini memberikan peluang besar bagi Indonesia, yang memiliki sumber daya alam berupa hutan, gambut, dan mangrove.
Namun, potensi ini membutuhkan dukungan ilmu pengetahuan, teknologi, tata kelola, serta sumber daya manusia agar dapat menghasilkan nilai tambah ekonomi. Heppy menekankan bahwa pengembangan ekonomi karbon membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin ilmu. Pengalaman VCarboN dalam mengembangkan proyek karbon berbasis mangrove dan peatland di Sumatera Selatan menunjukkan bahwa satu proyek karbon melibatkan keahlian dari berbagai bidang seperti kehutanan, hidrologi, ekologi, GIS, hukum, ekonomi dan keuangan, hingga remote sensing, kecerdasan buatan (AI), biodiversitas, pemberdayaan masyarakat, MRV, dan investasi.
"Di lapangan, kami menemukan bahwa ekonomi karbon tidak mungkin dibangun oleh satu disiplin ilmu. Satu proyek karbon mempertemukan begitu banyak keahlian," ujarnya.
Dari sudut pandang ini, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam pengembangan ekonomi karbon, khususnya melalui riset dan pengembangan sumber daya manusia. Hal ini turut membuka peluang kolaborasi antara Universitas Brawijaya (UB) dan VCarboN dalam pengembangan ekonomi karbon, natural capital, teknologi iklim, riset, dan pengembangan talenta.
Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, menjelaskan bahwa ruang kolaborasi yang dapat dikembangkan mencakup riset terapan, carbon data dan MRV, remote sensing dan AI, natural capital, biodiversitas, serta pengembangan talenta. Ia menambahkan bahwa kolaborasi ini juga mencakup keterlibatan akademisi dan mahasiswa dalam penelitian dan pembelajaran berbasis persoalan nyata di lapangan.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempertemukan kapasitas riset akademik dengan pengalaman implementasi proyek karbon berbasis alam di lapangan. Heppy menilai bahwa peluang Indonesia dalam ekonomi karbon tidak hanya ditentukan oleh besarnya kekayaan alam yang dimiliki. Kemampuan mengembangkan teknologi, ilmu pengetahuan, tata kelola, dan sumber daya manusia akan menentukan seberapa besar nilai ekonomi yang dapat dihasilkan dari sumber daya tersebut.
"Indonesia memiliki kesempatan besar untuk menjadi salah satu kekuatan penting dalam ekonomi baru dunia," ujarnya.



Posting Komentar