P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4
Bookmark

Translate

Trump: Perusahaan Minyak Siap Investasi 100 Miliar Dolar di Venezuela

Featured Image

Pertemuan Presiden AS dengan Perusahaan Minyak untuk Investasi di Venezuela

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengadakan pertemuan dengan sejumlah perusahaan minyak terkemuka di Gedung Putih pada Jumat (9/1/2026). Pertemuan ini dilakukan dalam rangka membahas rencana investasi besar-besaran di sektor energi Venezuela setelah pemerintah AS menangkap Presiden Nicolas Maduro. Hadir dalam pertemuan tersebut antara lain CEO Exxon Darren Woods, CEO ConocoPhilips Ryan Lance, dan Wakil Ketua Chevron Mark Nelson. Selain itu, eksekutif dari perusahaan seperti Haliburton, Valero, dan Marathon juga hadir.

Menurut informasi yang diperoleh, pertemuan ini dijadwalkan oleh Gedung Putih, bukan atas inisiatif perusahaan-perusahaan minyak tersebut. Trump menyatakan bahwa perusahaan minyak akan berinvestasi setidaknya 100 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.684,3 triliun untuk membangun kembali sektor energi Venezuela. Ia menegaskan bahwa AS akan memberikan keamanan dan perlindungan sehingga perusahaan dapat mendapatkan uangnya kembali dan menerima pengembalian investasi yang baik.

Trump juga menyatakan bahwa pihaknya akan menentukan perusahaan minyak mana yang akan masuk ke Venezuela. Gedung Putih disebut akan mencapai kesepakatan dengan perusahaan-perusahaan minyak yang hadir dalam pertemuan tersebut atau segera setelahnya. Salah satu manfaat yang diharapkan dari langkah ini adalah penurunan harga energi.

Bekerja dengan Chevron

Pemerintahan Trump hanya memberikan sedikit detail tentang bagaimana mereka akan mendorong perusahaan minyak untuk melakukan investasi besar di negara yang memiliki sejarah menasionalisasi aset industri. Chevron adalah satu-satunya perusahaan minyak AS yang saat ini beroperasi di Venezuela melalui usaha patungan dengan perusahaan minyak negara Petróleos de Venezuela, atau PDVSA.

Menteri Energi AS, Chris Wright, menjelaskan bahwa AS bekerja sama erat dengan Chevron. Menurutnya, Chevron berada di lapangan dan pemerintah menerima pembaruan setiap hari. Mereka sebenarnya bekerja di bawah rezim saat ini. Dengan bekerja sama, pemerintah berupaya memberikan penyesuaian atau perubahan bertahap agar model bisnis mereka bisa berkembang lebih jauh.

Wright menambahkan bahwa produksi minyak Venezuela dapat meningkat beberapa ratus ribu barel per hari dalam jangka pendek hingga menengah dengan investasi modal yang kecil.

Keraguan Exxon dan Conoco

Di sisi lain, Wright menjelaskan bahwa Exxon dan Conoco perlu jaminan untuk kembali ke Venezuela. Sebagai informasi, kedua perusahaan minyak ini meninggalkan Venezuela setelah Presiden Hugo Chavez menyita aset mereka pada 2007. Mereka memiliki klaim senilai miliaran dolar yang belum terselesaikan terhadap pemerintah yang mereka menangkan dalam kasus arbitrase.

Darren Woods, CEO Exxon, menyatakan bahwa aset mereka telah disita di sana dua kali, sehingga untuk masuk kembali untuk ketiga kalinya akan membutuhkan beberapa perubahan yang cukup signifikan dari apa yang telah dilihat sebelumnya.

Wright mengatakan bahwa utang Venezuela kepada Exxon dan Conoco perlu dibayar suatu saat nanti, tetapi itu bukan prioritas utama bagi pemerintahan Trump. Fokus utama Gedung Putih adalah stabilisasi ekonomi Venezuela melalui penjualan minyak. Pemerintah berusaha merekayasa transisi Venezuela menjadi tempat yang diinginkan oleh warga Amerika untuk berbisnis, ingin menginvestasikan modal baru, dan ingin mengembangkan kemitraan baru.

Namun, masih belum jelas apakah Gedung Putih dapat meyakinkan perusahaan-perusahaan seperti Exxon dan Conoco untuk kembali ke Venezuela tanpa perubahan dramatis dalam pemerintahan di Caracas.

Cadangan Minyak di Venezuela

Menurut Badan Informasi Energi AS, Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbukti terbesar di dunia, yaitu 303 miliar barel atau sekitar 17 persen dari total global. Namun, sektor minyaknya berada dalam kondisi yang sangat buruk.

Data dari perusahaan konsultan energi Kpler menunjukkan bahwa produksi telah menurun dari puncaknya sekitar 3,5 juta barel per hari pada 1990-an menjadi hanya sekitar 800 ribu barel per hari saat ini. Sementara Rystad Energy memperkirakan dibutuhkan biaya lebih dari 180 miliar dolar AS hingga 2040 agar produksi minyak Venezuela mencapai 3 juta barel per hari.

Posting Komentar

Posting Komentar

Komentar untuk berinteraksi dengan komunitas Brokerja.com. Dapatkan informasi tips terbaru disini.