P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4
Bookmark

Translate

Esai Jadi Film, Bagaimana Seniman Meniru Tuhan?

Adaptasi Buku Esai ke Layar Lebar: Proses yang Penuh Tantangan dan Kreativitas

Belakangan ini, alih wahana dari buku ke film semakin beragam. Tak lagi terbatas pada novel, kini buku esai juga mulai diangkat ke layar lebar dengan pendekatan cerita yang baru. Salah satu contohnya adalah film terbaru Seni Merayu Tuhan yang diadaptasi dari buku esai best seller karya Habib Ja’far. Sebagai salah satu pemain, Rieke Diah Pitaloka menilai proses adaptasi semacam ini bukanlah hal yang mudah. Menurutnya, para kreator harus mampu menerjemahkan gagasan dalam buku menjadi sebuah cerita dengan karakter dan konflik yang hidup.

Oleh karena itu, dalam sesi roundtable interview di kantor IDN, Jakarta, Jumat (24/7/2026), Rieke pun tak ragu mengapresiasi tim kreatif yang dinilainya berhasil mempertahankan intisari buku tanpa kehilangan daya tariknya sebagai sebuah film.

1. Rieke Diah Pitaloka Pilih Baca Script Dulu, Baru Kemudian Baca Bukunya


Kepada IDN Times, Rieke Diah Pitaloka mengaku, sejak awal ia mengetahui Seni Merayu Tuhan merupakan film yang terinspirasi dari buku esai karya Habib Ja’far. Berbeda dengan adaptasi novel yang mengikuti alur cerita, film tersebut justru mengembangkan kisah fiksi baru dari gagasan yang terdapat dalam buku.

Oleh karena itu, Rieke memutuskan untuk fokus pada naskahnya terlebih dahulu, baru kemudian membaca bukunya setelah proses syuting selesai. Menurutnya, hal tersebut dilakukan agar ia dapat mendalami karakter sesuai kebutuhan cerita tanpa terpengaruh pendekatan buku yang bersifat motivasional.

“Biasanya kalau pendalaman naskah itu kita bener-bener melebur, kita coba untuk menemukan makna-makna penting. Kemudian bagaimana bagian kita berkarakter, supaya gak terpengaruh sama yang tadinya adalah buku motivasi,” kata Rieke Diah Pitaloka.

2. Rieke Diah Pitaloka Apresiasi Proses Adaptasi Film Seni Merayu Tuhan


Setelah membaca bukunya, Rieke menjelaskan, karya Habib Ja’far tersebut mengajak pembaca untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan tanpa terjebak pada ritual keagamaan yang kaku. Menurutnya, buku Seni Merayu Tuhan juga membawa sudut pandang baru mengenai relasi dengan Tuhan tanpa mengesampingkan hubungan dengan sesama manusia.

“Jadi inti sari dari buku itu adalah bagaimana merayu Tuhan itu tidak dengan ritual keagamaan yang kaku. Dia menggunakan bahasa yang indah, ada definisi baru tentang cinta, definisi baru tentang bagaimana memaknai relasimu dengan Tuhan itu bukan berarti kamu kemudian melupakan relasimu dengan sesama,” lanjutnya.

Karena buku karya Habib Ja’far tersebut tidak memiliki tokoh maupun alur cerita layaknya novel, Rieke pun menilai proses adaptasi Seni Merayu Tuhan ke layar lebar bukanlah hal yang mudah. Kendati demikian, ia menilai para kreator berhasil menerjemahkan pesan utama buku ke dalam sebuah cerita fiksi.

Rieke yang juga aktif sebagai anggota DPR-RI pun mengapresiasi penulis skenario Salman Aristo yang dinilainya mampu mengembangkan gagasan dalam buku menjadi cerita dengan karakter yang hidup tanpa menghilangkan esensi karya aslinya.

“Yang perlu diapresiasi, selain Habib Ja'far dengan karyanya, adalah penulis skenario Mas Salman. Bagaimana Mas Salman mengadaptasi pesan-pesan inti dari buku ini menjadi suatu karya fiksi dengan karakter yang hidup.”

Tak hanya itu, Rieke juga memberikan apresiasi kepada sutradara Cesa David Luckmansyah. Menurutnya, Cesa berhasil menerjemahkan naskah ke dalam bahasa visual, termasuk melalui penggunaan film analog untuk membedakan adegan mimpi dengan realitas. Ia juga menilai latar belakang Cesa sebagai editor membuat proses produksi menjadi lebih matang karena kebutuhan gambar sudah diperhitungkan sejak proses syuting berlangsung.

3. Lutesha Pilih Baca Buku Sebelum Syuting, Teuku Rizky Fokus pada Naskah Film


Nah, berbeda dengan Rieke Diah Pitaloka yang memilih membaca buku Seni Merayu Tuhan setelah syuting selesai, Lutesha justru membaca buku tersebut terlebih dahulu untuk memahami perbedaan antara karya aslinya dengan versi film.

Menurut Lutesha, buku Seni Merayu Tuhan lebih berbentuk esai motivasi atau self-help yang berisi refleksi tentang cara mendekatkan diri kepada Tuhan. Sedangkan filmnya menghadirkan cerita fiksi melalui karakter Hikmah, pemuda yang lalai dalam beribadah hingga mengalami serangkaian mimpi tentang ibunya yang telah tiada.

Sementara di sisi lain, Teuku Rizky mengambil pendekatan berbeda dalam mempersiapkan perannya sebagai Khatib. Ia mengaku tidak membaca buku aslinya dan lebih memilih untuk mendalami karakter melalui naskah film yang diterimanya.

“Gue gak baca bukunya. Karena seperti yang Luthesa bilang karena memang esai, jadi begitu udah dapet script dan dijelaskan juga bagaimana film ini di-convert dari novel menjadi film. Secara karakter, apa yang ada di buku itu, poin-poinnya sebagai sifat dari Allah, ada di karakter-karakternya. Jadi gue berpegang pada script aja.”

Posting Komentar

Posting Komentar

Komentar untuk berinteraksi dengan komunitas Brokerja.com. Dapatkan informasi tips terbaru disini.