P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4
Bookmark

Translate

Tarif Pelabuhan AS dan Tiongkok Picu Kekhawatiran Dunia Usaha Indonesia

Perang Tarif Antara Amerika Serikat dan Tiongkok Memperburuk Ketidakstabilan Ekonomi Global

Ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok kembali memanas setelah kedua negara saling menaikkan tarif pelabuhan untuk kapal berbendera masing-masing. Kebijakan ini menjadi tanda perang tarif jilid dua yang bisa berdampak luas terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.

Tiongkok mengumumkan bahwa akan menaikkan tarif pelabuhan untuk kapal berbendera AS mulai tanggal 14 Oktober 2025. Penyesuaian tarif ini merupakan respons atas kebijakan serupa yang telah diberlakukan oleh Washington terhadap kapal asal Tiongkok. Menurut laporan dari Reuters, Kementerian Transportasi Tiongkok menyatakan bahwa kapal berbendera AS yang berlabuh di pelabuhan Tiongkok akan dikenakan biaya sebesar 400 yuan atau sekitar 56,13 dollar AS per metrik ton bersih.

Tarif tersebut akan naik secara bertahap pada tahun-tahun mendatang. Pada 17 April 2026, tarif akan meningkat menjadi 640 yuan atau 89,81 dollar AS. Selanjutnya, pada 2027, tarif akan mencapai 880 yuan atau 123,52 dollar AS, dan pada 17 April 2028, tarif akan mencapai 1.120 yuan atau 157,16 dollar AS per tonase bersih.

Tidak lama setelah pengumuman tersebut, Presiden AS Donald Trump merespons dengan kebijakan serupa. Ia mengumumkan kenaikan tarif impor terhadap seluruh barang asal Tiongkok hingga 100 persen, serta membatasi ekspor perangkat lunak penting sebagai balasan atas langkah Beijing yang membatasi ekspor mineral langka.

Dampak Buruk bagi Dunia Usaha di Indonesia

Perang tarif antara AS dan Tiongkok bisa memiliki dampak buruk bagi dunia usaha di Indonesia. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, menjelaskan bahwa dinamika tarif antara dua negara besar ini mencerminkan tantangan besar dalam perdagangan global saat ini.

Menurut Anin, kebijakan tarif tidak lagi sekadar soal saling mengungguli antarnegara, tetapi menunjukkan ketidakkonsistenan kebijakan yang terus berulang dan bisa mengganggu stabilitas ekonomi dunia. Kondisi ini menjadi alasan mengapa Indonesia perlu memperluas fokus pasar ke kawasan lain seperti Eropa yang memiliki market size senilai 21 triliun dollar AS. Bahkan, Eropa diyakini lebih konsisten dalam penerapan kebijakan dagangnya.

“Secara umum ya itulah dunia yang kita hidup sekarang. Penuh dengan tantangan di mana tarif itu bukan hanya saling mengungguli ya. Kayak terakhir dengan Cina dan Amerika juga mineral kritis. Tapi yang lebih bahaya lagi ketidakkonsistenan itu berjalan terus,” ujar Anin usai gelaran Indonesia International Sustainability Forum (IISF) di Jakarta, Sabtu (11/10/2025).

Strategi Indonesia dalam Menghadapi Ketidakstabilan Global

Langkah strategi bagi Indonesia saat ini adalah terus memantau perkembangan global, bersikap adaptif, dan membuka pasar alternatif agar tidak terlalu bergantung pada dua kekuatan ekonomi besar tersebut. Indonesia juga tengah memperkuat hubungan dagang dengan Kanada dan Uni Eropa karena karakteristik ekspor Indonesia dinilai cocok dengan kebutuhan pasar di kedua kawasan itu.

“Nah dari sisi saya yang paling penting adalah bagaimana tetap kita memonitor, menyikapinya, tapi juga membuka pasar-pasar alternatif. Itu karena kita juga membuka dengan Kanada dan Uni Eropa. Karena kebetulan apa yang kita transfer atau kita kirim itu juga sama,” lanjut Anin.

Posting Komentar

Posting Komentar

Komentar untuk berinteraksi dengan komunitas Brokerja.com. Dapatkan informasi tips terbaru disini.